This slideshow requires JavaScript.
Modal terampil kerja (skill worker) bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bersedia menjadi calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) dan siap menjadi TKI formal, memang merupakan syarat utama. Namun, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah, modal kemampuan berbahasa Inggris.Demikian pesan dan sekaligus warning (peringatan) yang disampaikan Gatot Subagio (63), mantan TKI sukses yang kini menjadi guru bahasa Inggris kepada para kepala SMK se-DKI Jakarta saat mengikuti “Sosialisasi Lulusan SMK yang Siap Diproyeksi Menjadi TKI di Luar Negeri” di Kantor BNP2TKI, Rabo (7/4) kemarin.
Di depan 43 kepala SMK se-DKI Jakarta itu, Gatot yang didaulat sebagai narasumber Bahasa Inggris oleh BNP2TKI menjelaskan, kebanyakan CTKI gagal menjadi TKI formal di luar negeri lantaran tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris.
“Saya memiliki pengalaman pahit dalam menyeleksi CTKI yang gagal untuk disiapkan sebagai TKI formal, lantaran tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris,” ungkap Gatot.
Sebab itulah, menurut Gatot, kiranya para kepala SMK se-DKI Jakarta (dan juga SMK lainnya di Indonesia) perlu memberikan muatan Bahasa Ingris ini secara lebih kepada para siswanya. Sehingga, begitu para siswanya lulus SMK benar-benar sudah siap kerja.
“Bahasa Inggris ini merupakan bahasa internasional yang sangat diperlukan dalam dunia kerja, baik di dalam negeri maupun lebih-lebih di luar negeri. Jadi, tidak ada salahnya jika memberikan muatan Bahasa Inggris untuk setiap mata pelajaran sejak diterima menjadi siswa di SMK,” kata Gatot.
Menanggapi harapan Gatot ini, Kepala Seksi Bidang SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rita Ariyani yang turut hadir dalam acara itu sangat mendukung sekali.
“Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perekembangan teknologi sekarang ini, Bahasa Inggris sudah merupakan kebutuhan bagi setiap siswa. Saya sangat mendukung bila siswa di SMK yang memang diproyeksi sebagai pekerja, sejak dini diberikan muatan Bahasa Inggris di setiap mata pelajarannya di sekolah. Sehingga, begitu lulus sekolah, sudah tidak kebingungan hanya gara-gara Bahasa Inggris,” ungkap Rita.
Sedangkan Direktur Penyiapan dan Kelembagaan Penempatan BNP2TKI, Drs V Arifin Purba MSi mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja luar negeri, bagi lulusan SMK yang gagal seleksi menjadi TKI lantaran tidak memiliki kemampuan Bahasa Inggris, mereka nantinya akan disalurkan ke Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) untuk dilatih Bahasa Inggris dengan program khusus dan cepat.
“Kami sudah meminta kepada 20 PPTKIS di Jakarta, agar bisa mengadakan pelatihan Bahasa Inggris secara cepat kepada CTKI lulusan SMK yang gagal seleksi sampai mereka benar-benar menguasai Bahasa Inggris,” kata Arifin.***(Imam Bukhori)
Sumber: BNP2TKI









